BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Di ketinggian Puncak Legend, kabut sering turun pelan. Ia mengingatkan kita pada satu hal: bahwa yang paling pekat di dunia ini bukanlah kabut, melainkan ketika batin kehilangan cahayanya.
Di ruang-ruang sederhana pesantren ini, kita belajar sebuah realitas yang halus. Ada kalanya mata melihat, telinga mendengar, akal memahami. Namun langkah tetap tertahan. Seolah ada tirai tipis yang memisahkan antara pengetahuan dan pengamalan.
Tuan Guru Sayyidi Syekh Moh Sazli Harahap menamainya dengan bahasa yang lembut:
“Biarkan Allah yang bekerja melunakkan. Tugas kita hanya mengetuk pintu dengan doa dan kesabaran.”
Telaah Al-Qur’an: Tentang Penglihatan Hati
Empat belas abad lalu, Al-Qur’an telah memberi kita peta batin manusia. Ia membedakan antara dua jenis kebutaan.
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)
Ayat ini mengajak kita merenung. Kebutaan fisik bisa dibantu dengan tongkat dan penuntun.
Namun kebutaan batin adalah ketika seseorang tidak lagi mampu menangkap makna dari kebaikan yang lewat di hadapannya.
Al-Qur’an melanjutkan:
خَتَمَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَعَلَىٰ سَمْعِهِمْ ۖ وَعَلَىٰ أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan pada penglihatan mereka ada penutup.” (QS. Al-Baqarah: 7)
Para ulama menafsirkan “kunci” di sini bukan sebagai vonis permanen. Ia adalah akibat. Akibat dari terlalu seringnya hati menolak cahaya, hingga akhirnya ia berkarat. Seperti cermin yang lama tidak diusap.
Kajian Hadits: Sentralitas Qalb dalam Kehidupan
Di tengah perbincangan tentang pembangunan lahir, Rasulullah ﷺ mengingatkan kita pada pembangunan batin.
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)
Hadits ini menjadi fondasi besar dalam khazanah akhlak dan tasawuf. Ia mengajarkan bahwa kualitas lahir seseorang adalah cerminan dari kualitas batinnya.
Sebelum membicarakan karya, bicarakan niat. Sebelum membicarakan hasil, bicarakan keikhlasan.
Puncak Legend sebagai Ruang Tazkiyah
Dari pemahaman inilah lahir falsafah Puncak Legend.
Jika di banyak tempat orang sibuk membangun fisik, di sini kita juga menyisihkan ruang untuk membangun ruh.
Jika di banyak tempat orang cemas akan kekurangan materi, di sini kita juga belajar cemas akan kekosongan makna.
Karena kita meyakini sabda Nabi ﷺ:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنظُرُ إِلَىٰ صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَٰكِن يَنظُرُ إِلَىٰ قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian. Akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim 2564)
Dan Allah telah menunjukkan jalan keberuntungan:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9)
Tazkiyah an-nafs. Penyucian jiwa.
Maka di Legend, cangkul di tangan kanan digunakan untuk menghijaukan tanah.
Dzikir di qolbu digunakan untuk menghijaukan jiwa. Keduanya berjalan beriringan.
Doa sebagai Jalan Pulang
Dalam perjalanan penyucian ini, kita semua adalah pelajar. Tidak ada yang sempurna. Karena itu kita saling mendoakan.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَىٰ دِينِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi 2140)
Ya Allah…
Anugerahkan kelembutan pada hati kami.
Jadikan mata kami peka melihat tanda-tanda-Mu.
Jadikan telinga kami terbuka pada kebenaran.
Jangan biarkan hati kami tertidur saat Engkau memanggil.
Semoga Puncak Legend menjadi salah satu ruang. Ruang di mana manusia belajar mengingat.
Mengingat bahwa surga yang paling dekat bukan di kejauhan.
Surga yang paling dekat adalah ketika hati kita hidup. Hidup, sehingga setiap kebaikan sekecil apapun kita terima sebagai undangan dari-Nya untuk kembali.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. (*)














