BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Mengutip Tausiyah Maulana Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya MA, M.Sc
Ada adegan kecil yang sering kita lakukan sejak kecil: sebelum menyentuh Al-Qur’an kita berwudhu dulu. Setelah selesai membaca, kita cium mushafnya. Itu adab. Itu bagus.
Tapi ada satu pertanyaan yang lebih dalam:
Kalau jasad kita sucikan sebelum memegang Al-Qur’an, lalu bagaimana dengan hati kita sebelum menghadap Allah?
BERSIH DI LUAR, KOTOR DI DALAM?
Saya pernah mendengar seorang ustadz saat pembukaan BRI Cabang Baru. Ia berdoa:
“Tuan-tuan sekalian, kalau berdoa tapi hati sanubari tidak bersih, maka doa itu tidak akan sampai ke hadirat Allah. Mari kita bersihkan hati dulu.”
Perkataannya benar. Tapi yang menggelitik, beliau ternyata dikenal anti tarekat.
Lalu saya bertanya dalam hati: dengan cara apa beliau membersihkan hati itu?
Banyak orang hari ini “membersihkan hati” hanya di level pikiran, kata-kata, dan angan.
Ceramahnya bagus. Kutipannya dari buku tasawuf. Tapi di praktiknya nihil.
Hasilnya hanya satu kata: mudah-mudahan.
“Mudah-mudahan doa saya dikabul.”
“Mudah-mudahan saya istiqamah.”
“Mudah-mudahan selamat dari azab kubur.”
Padahal agama ini bicara tentang hukum dan kepastian, bukan untung-untungan.
AGAMA ADALAH ILMU PASTI, BUKAN MUDAH-MUDAHAN
Coba bayangkan.
Kita lempar batu ke burung dari jarak 100 meter, 100 kali. Kita berharap mudah-mudahan kena satu kali. Hasilnya? Burungnya sudah terbang di lemparan pertama.
Sekarang ganti dengan senapan yang ada teleskopnya. Bidik. Tembak.
100 kali bidik, 100 kali kena. Karena masuk titik fokus. Itu hukum. Itu pasti. Apalagi kalau sudah terlatih.
Berenang juga begitu.
Tidak mungkin orang yang tidak bisa berenang dilempar ke laut lalu bilang mudah-mudahan tidak tenggelam. Harus ada guru, ada teknik, ada latihan.
Ilmu agama pun sama.
Kalau hanya diajarkan lewat lisan dan masuk ke otak, maka ia akan hilang saat kita tidur.
Coba tanya seorang profesor matematika saat tidur: 2 x 2 berapa? Pasti diam.
Coba tanya seorang profesor lulusan Kairo saat tidur: Siapa Tuhanmu? Bisa jadi juga tidak menjawab.
Lalu bagaimana nanti di alam kubur saat Malaikat Munkar Nakir bertanya?
Di sana lidah kelu. Otak tidak bekerja. Yang menjawab adalah ruh.
Tapi bagaimana ruh bisa menjawab kalau selama hidup tidak pernah ditanamkan kalimat Allah ke dalamnya? Tidak pernah diajari caranya.
NUR ALLAH DAN METODOLOGI MEMASUKKANNYA KE DALAM RUH
Semua amalan dalam Islam harus ada konfirmasi dari Al-Qur’an dan Hadits. Termasuk cara membersihkan hati.
Nabi ﷺ bersabda dalam sebuah hadits:
“Nur-Ku adalah seperti rupa hamba-Ku. Dan rupa Rasul-Ku adalah seperti rupa Khalifah-Ku.”
Kalimat ini dalam.
Nur Allah yang dibawa oleh Nurun ‘ala Nurin itulah yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Dan Nur itu pula yang diwariskan kepada Khalifah, kepada pewaris Nabi, kepada guru yang membimbing.
Tugas mereka bukan sekadar bercerita. Tapi memasukkan Nur itu ke dalam ruh muridnya.
Dengan metodologi. Dengan bimbingan. Dengan baiat dan dzikir.
Karena kelak saat ruh kita dicogok di alam kubur, jika di dalamnya ada sinar kalimat Allah, maka Malaikat pun akan segan mendekat. Bukan karena hafalan kita banyak. Tapi karena ada Nur di dalam ruh.
DARI CERITA KE PRAKTIK
Masalah kita hari ini: banyak yang pandai bercerita tentang tasawuf, tapi tidak tahu teknisnya.
Tahu teorinya, tapi tidak punya silsilah dan metode.
Padahal Rasulullah ﷺ tidak hanya menyampaikan ayat. Beliau mendidik sahabat 23 tahun.
Ada dzikir, ada mujahadah, ada adab, ada bimbingan langsung.
Itulah metodologi.
Tanpa itu, ilmu hanya mampir di kepala. Tidak sampai ke hati. Tidak masuk ke ruh.
JANGAN CUKUP DENGAN “MUDAH-MUDAHAN”
Saudaraku,
Menyucikan mushaf dengan wudhu itu wajib.
Tapi menyucikan hati dengan bimbingan itu jauh lebih wajib.
Jangan sampai kita rajin ibadah, banyak ilmu, tapi saat ditanya di alam kubur kita menjawab: “Saya tidak tahu.”
Carilah orang yang bisa menuntun.
Orang yang bukan hanya bicara tentang Nur, tapi yang bisa menghidupkan Nur itu di dalam diri kita.
Karena agama ini bukan soal mudah-mudahan.
Agama ini soal kepastian.
Dan kepastian hanya datang lewat ilmu, amal, dan bimbingan yang bersambung.
Wallahu a’lam bishshawab.(*)














