BUMIAKTUAL-SITUBONDO, Hujan deras dan angin kencang di sejumlah wilayah Kabupaten Situbondo akhir-akhir ini mengakibatkan tanaman milik petani di Desa/Kecamatan Kendit, Situbondo, rusak. Mereka terancam gagal panen dan merugi hingga ratusan juta rupiah.
Akibat hujan deras yang turun terus menerus membuat sawah terendam air. Tak tanggung tanggung luasnya mencapai 24 hektare. “Kalau kerugian yang pasti sudah ratusan juta,” ujar Mujasin, kepada bumiaktual.com, (08/01/2020) usai memantau bibit di sawahnya yang mati.
Dia mengaku, dua bulan lalu dirinya menanam padi dan timun. Namun, sekarang sudah mati dan tidak bisa di panen. “Sawah milik saya terendam air cukup dalam, ketinggiannya sekitar satu meter,” ujar pria berusia 60 tahun itu.
Lain ceritanya dengan Agus. Petani asal Desa Kendit ini hanya bisa pasrah melihat tanaman padi miliknya rusak sepekan sebelum masa panen. “Ini minggu depan (15/01) sudah mau panen, tapi ya mau gimana lagi, kemarin lusa terkena banjir,” ujarnya sambil memandang tanaman sawah miliknya.
Di pinggir sawah, sesekali buruh tani ini meneriaki burung yang memakan padi miliknya. Sebab, dia tak ingin, bulir bulir padi itu semakin habis. Sehingga akan menambah kerugian yang dia derita. Kata Agus, modal menanam sawah di lahan seluas tujuh hektare membutuhkan biaya Rp 20 juta. “Minggu depan ini jika di panen paling mahal mendapat 12 atau 13 juta rupiah, karena kualitas padi sudah hancur akibat genangan banjir,” sambungnya.
Dijelaskan, harga gabah saat panen nanti diperkirakan akan turun drastis. Semula Rp 9 ribu perkilogram, diprediksi menjadi Rp 6 ribu bahkan Rp 5 ribu perkilogram. Penyebabnya, kualitas padi saat ini telah terendam air.
“Pasti ada penurunan harga, liat saja padi saya yang biasanya kuning kecoklatan sekarang berwarna merah akibat terendam air,” sambungnya, sesambil menunjuk tanaman miliknya. (dra/usi)














