BUMIAKTUAL, SITUBONDO – Kelangkaan pupuk bersubsidi terjadi di wilayah Kabupaten Situbondo selama beberapa bulan terakhir. Keadaan ini akibat adanya pengurangan stok pupuk dari pemerintah pusat. Akibatnya, stok pupuk di Kabupaten Situbondo habis.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Situbondo, Sentot Sugiono menjelaskan, jatah pupuk di Kota Santri yang sebelumnya 41 ribu ton. Namun, saat ini berkurang 50 persen, tinggal 20 ribu ton. “Pemangkasan itu memang dari pusat,” jelasnya, Jumat (04/08/2020).
Pria yang akrab disapa Sentot itu mengatakan, akibat pengurangan jatah pupuk bersubsidi hingga mencapai separo, pada awal September tahun 2020 ini, stok pupuk bersubsidi di Situbondo sudah habis. Selain itu, aturan untuk petani juga rumit, dengan adanya RDKK sampai dengan kartu tani. “Jadi untuk mendapatkan pupuk bersubsidi, para petani harus memiliki kartu tani dan kesiapan di lapangan belum sempurna,” katanya.
Sentot menegaskan, pihaknya sudah mengusulkan adanya tambahan stok pupuk subsidi melalui surat bupati ke Kementrian dan Gubernur Jawa Timur. “Informasi dari Provinsi dalam minggu akan ada rapat, mudah mudahan ada tambahan alokasi.,” bebernya.
Sentot menerangkan, banyak petani yang tergantungan dengan pupuk kimia. Sedangkan untuk beralih kepenggunaan pupuk organik memang butuh waktu. “Ini soal kebiasaan, sehingga butuh waktu memberikan pemahaman kepada masyarakat,” ujarnya.
Saat ini, pemerintah daerah akan menerapkan perlakukan organik itu secara bertahap. Dengan melalui pendekatan kepada kelompok tani. “Hingga saat ini, sekitar seribu hektare yang sudah tersentuh penyuburan dengan pupuk organik. Mereka tersebar di 67 kelompok tani,” tutup Sentot. (dra/usy)










