SITUBONDO, BUMIAKTUAL – Di atas bumi Selobanteng, di ujung barat Kabupaten Situbondo, berbatasan langsung dengan Kabupaten Probolinggo. Bukit yang bisu, belum tersentuh bising kendaraan. Belum ternoda polusi.
Namanya: Puncak Legend…
Di sana…
Angin menangis.
Tanah bersaksi.
Dan langit menunduk, menyaksikan sekelompok manusia yang menjual dirinya kepada Allah.
Mereka bukan tentara.
Tapi mereka Prajurit Langit.
Tidak berseragam, tapi bertasbih.
Tidak bersenjata, tapi bertawakal.
Siang diperas keringat.
Malam diperas air mata.
Bahu dibanting tulang.
Dada dibanting ego.
Tujuannya hanya satu:
MENEGAKKAN KALIMATULLAH.
Membelah sunyi dengan adzan.
Menanam cahaya di atas bukit.
Membangun Pondok Pesantren Lansia, Rehabilitasi Manusia dan Alam Rahmatan lil ‘Alamin.
Lihatlah!
Telapak tangan kami robek. Dihantam batu dan semen.
Punggung kami bungkuk. Dipikul beban yang bukan untuk dunia.
Perut kami lapar. Karena bekal dibagi untuk saudara.
Tidur kami sebentar. Karena sepertiga malam dipakai untuk sujud.
Tidak ada gaji.
Tidak ada upah.
Yang ada hanya satu nama yang diulang dalam hati:
“Allah… Allah… Allah…”
Allah berfirman dan menggetarkan dada:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka”
(QS. At-Taubah: 111)
Kami tidak sedang membangun tembok.
Kami sedang menjual diri kepada Allah.
Lunas. Tunai. Dengan keringat.
Nabi ﷺ bersabda dan menusuk kalbu:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”
(HR. Muslim)
Maka kami bangkit dan bekerja.
Sebagai pemilik… yang sedang mendirikan rumahnya sendiri.
Sebagai pengabdi… mengabdi untuk rumah tempat sujud dan bertaubat.
Sebagai prajurit… yang paculnya adalah pedang, semennya adalah tameng, dzikirnya adalah perisai.
Bagi kami,
Mengaduk semen = bertasbih.
Menegakkan tiang = bertahlil.
Memasang genteng = bersholawat.
Wahai saudaraku…
Pesantren ini bukan bangunan biasa.
Ini mi’raj tanah.
Tangga menuju langit.
Setiap batanya dibayar dengan darah.
Setiap sudutnya disiram dengan air mata taubat.
Jika suatu hari kau duduk di serambinya dengan tenang,
ingatlah…
Di bawah sajadahmu ada sisa lelah para santri yang ikhlas mengabdi.
Di setiap dindingnya ada doa para pendosa yang ingin pulang.
Ya Allah…
Terimalah lelah kami.
Jadikan setiap bata yang tersusun, setiap tiang yang berdiri, setiap tetes keringat ini
saksi bahwa pernah ada manusia yang banting tulang,
demi memudahkan jalan hamba-Mu menuju-Mu.
“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan ke surga”
(HR. Muslim)
Untuk para Prajurit Langit.
Untuk mereka yang mengorbankan dunia,
demi membeli satu senyum Allah di akhirat.
Wahai Puncak Legend…
Kelak ketika kami sudah tiada,
biarlah angin di bukit ini yang bertasbih menggantikan dzikir kami.
Biarlah setiap tapak kaki santri di atas tanah ini
menjadi pahala yang terus mengalir untuk nama kami.
Ya Allah… wafatkan kami di jalan ini.
Jalan yang Kau ridhoi. Jalan yang Kau cintai.
Jalan pulang. (*)














